Hallo wak, kenalan dengan Urang Kutai yok!

Nah wak, ini merupakan baju adat Suku Kutai. Cantik banget ya..
Suku Kutai sampai saat ini masih memiliki kedekatan budaya melayu dengan Suku Banjar. Hal itu bisa dilihat dari kesenian kedua suku ini, seperti pertunjukan Mamanda atau seni teater Jepen/Zapin, musik Panting Gambus, budaya bersyair seperti Tarsul, bahkan bahasanya pun tidak jauh berbeda loh wak…
Menurut tradisi lisan dari Suku Kutai, antara tahun 3000-1500 sebelum Masehi, Mereka dari Yunan-Cina terdiri dari kelompok yang mengembara, hingga sampai di pulau Kalimantan melalui rute perjalanan melewati Hainan, Taiwan, Filipina. Kemudian, menyeberangi Laut Cina Selatan menuju Kalimantan Timur.
Pada zaman es proses perpindahan itu tidaklah begitu sulit, karena permukaan laut sangat turun akibat pembekuan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan. Hanya bermodalkan perahu kecil bercadik dengan sayap dari batang bambu, sangat mudah menyeberangi selat karimata dan laut cina selatan menuju Kalimantan Timur.
Masuknya para imigran dari daratan cina ke Kalimantan Timur, pada saat itu sudah termasuk kelompok Ras Negroid dan Weddid.
Seiring perkembangan zaman, saat ini bahasa Kutai terbagi ke dalam 4 dialek, yaitu:
1. Kutai Tenggarong
2. Kutai Kota Bangun
3. Kutai Muara Ancalong
4. Kutai Sengata/Sangatta
Disamping memiliki beberapa persamaan kosa kata dengan bahasa Banjar, bahasa Kutai juga memiliki persamaan kosa kata dengan bahasa Dayak lainnya.
Misalnya kata “nade” dalam bahasa Kutai Kota Bangun; atau “nadai” dalam Bahasa Kantu, artinya “tidak”.
Selanjutnya ada kata “celap” dalam bahasa Kutai Tenggarong; atau “celap” dalam bahasa Dayak Iban dan bahasa Dayak Tunjung, serta “jelap” dalam bahasa Dayak Benuaq, artinya dingin.
Ciri khas Urang Kutai dapat dilihat dari wajahnya yang kecil dan terkesan imut loh wak…Gimana? Tertarik dengan Urang Kutai? hehe…
